IJSTR

International Journal of Scientific & Technology Research

Home About Us Scope Editorial Board Blog/Latest News Contact Us
0.2
2019CiteScore
 
10th percentile
Powered by  Scopus
Scopus coverage:
Nov 2018 to May 2020

CALL FOR PAPERS
AUTHORS
DOWNLOADS
CONTACT

IJSTR >> Volume 8 - Issue 5, May 2019 Edition



International Journal of Scientific & Technology Research  
International Journal of Scientific & Technology Research

Website: http://www.ijstr.org

ISSN 2277-8616



Syair Gulong Ketapang West Kalimantan With The National Resistance Approach

[Full Text]

 

AUTHOR(S)

Rusnila Hamid; Syarif; Nilwani Hamid; Khairawati

 

KEYWORDS

Gulong Poetry, Oral Literature Art, Contemporary, Era of Globalization

 

ABSTRACT

The cultural research of Gulong Poetry in Ketapang, West Kalimantan has two objectives: 1) To know the development of Gulong Poetry as Malay literary art in the Kingdom of Tanjungpura in 1970-1990, 2) To find out the dynamics of Gulong Poetry art towards the West Kalimantan Malay community with the National Resilience approach. This study uses a historical method that begins with the heuristic stage, namely the collection of data from contemporary historical sources found at the National Archives of the Republic of Indonesia, National Library, Historical and Traditional Valuation Centers of Pontianak. And the next stage is to criticize the existence of culture with the National Resilience approach. The results of the study show that the Gulong Poem is an oral literary art that has been passed down from generation to generation since the time of the Kingdom of Tanjungpura to the contemporary era. This art had experienced stagnation during the Dutch colonial period and Japanese Occupation, then reappeared in the 70s to 90s and 2000s. In a social perspective, Gulong Poetry was released from the limitations which previously developed only in the royal environment into arts which lived in the middle of the people, becoming a medium for West Kalimantan Malay people to express their aspirations, inspiration, criticism, and entertainment. In the viewpoint of art, Gulong Poetry undergoes a change from the previous literary book and is preserved through the tradition of transferring books from hand to hand and narrated by word of mouth, into the art of oral literature whose text is written and the poem is read and sung in front of the public. Entering the era of globalization, the culture of the Gulong Poetry is feared unable to survive with the global flow of modern art, which is now very often heard by the public. Gulong poetry can only be heard by the public at certain events such as the sacred community of Malay people who are aware of culture such as marriage and circumcision.

 

REFERENCES

[1] Bayu Widjiatmoko. 2014. Kronik Peralihan Nusantara Liga Raja-Raja Hingga Kolonial. Jogjakarta: Mata Padi Presindo.

[2] Borneo Barat Bergerak: Pembatjaan Pemimpin dan Penolong Anak Negeri No.7

[3] 1 januari 1920. Jakarta: Koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia.

[4] Braginsky, V.I. 1999. Yang Faedah dan Kamal Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19. Jakarta: Balai Pustaka.

[5] Chairil Effendy. 2006. Bercerite dan Bedande ; Tradisi Kesastraan Melayu Sambas. Pontianak: Stain Pontianak Press.

[6] ---------------- 2006. Sastra sebagai Wadah Integrasi Budaya. Pontianak: Stain Pontianak Press.

[7] Claire, Holt. 2006. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia (edisi terjemahan Soedarsono). Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia.

[8] Direktorat Jenderal Sejarah, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. 2000. Sukadana : Suatu Tinjauan Sejarah Kerajaan Tradisional Kalimantan Barat. Pontianak: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

[9] --------------------- 2001. Upacara Tradisional Tumpang Negeri Bagi Masyarakat Melayu Ngabang Kabupaten Landak. Pontianak: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

[10] ---------------------2001. Kerajaan Simpang ; Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangannya. Pontianak: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

[11] Edi Setyawati. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukkan. Jakarta: Sinar Harapan.
[12] ------------------2014. Kebudayaan di Nusantara dari Keris, Tor-Tor, sampai Industri Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu.

[13] Ibrahim Badjuri. 2006. Sejarah Singkat Kerajaan Tanjungpura dan Kerajaan- Kerajaan yang Asal-Usulnya dari Kerajaan Tanjungpura. Ketapang: Kantor Informasi Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ketapang.

[14] I Made Satyananda. 1997. Skenario Perekaman Upacara Gunting Rambut Suku Melayu Pontianak Kotamadya Pontianak Kalimantan Barat. Pontianak: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

[15] Jenks, Chris. 2013. Culture, Studi Kebudayaan (edisi terjemahan oleh Erika Setyawati). Jogjakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

[16] Juniar Purba, dkk. Jurnal Sejarah dan Budaya Kalimantan no 07/2009. Pontianak: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak. Jurnal Sejarah dan Budaya Kalimantan no 07/2005. Pontianak: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

[17] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. Syair Gulong : Registrasi Warisan Budaya Tak Benda Nasional. (http://www.bpsnt- pontianak.org/index.php?pages=rubrik). Diakses pada Rabu 12 Februari 2014.

[18] M. Darbi D. Has. 2008. Syair Gulong Sastra Peninggalan Kerajaan Tanjungpura. (http://yudosudarto.blogspot.com/2009/03/syair-gulung-sastra- peninggalan.html). Diakses pada Rabu 12 Februari 2014.

[19] Koentjaraningrat. 2010. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

[20] Marwati Djonoed, dkk. 1984.Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Penerbit Balai Pustaka.

[21] M. Darbi D Has. 2008. Kebudayaan, Adat Istiadat dan Hukum Adat Melayu Ketapang. Ketapang: Kantor Informasi Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ketapang.

[22] Moeflih Hasbullah, dkk. 2012. Filsafat Sejarah. Jakarta: Pustaka Setia.

[23] M. Zaini. AR. 1991. Kesah Nagri Sambas 1568-1944. Pontianak: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

[24] R.M. Soedarsono. 2007. Seni Pertunjukkan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: UGM Press.

[25] Syair Bulan Terbit 1922. Pontianak: Koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

[26] Syair Sultan Madi 1923. Pontianak: Koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak.

[27] Serial Sejarah Sekuntum Mawar Tentang Sejarah & Hari Jadi Ketapang, Jakarta

[28] & Bekasi 1 Desember 1998. Pontianak: Jurnal Pribadi M. Salim Bin Achmad Atik.

[29] Syafaruddin Usman. 2003. Sejarah dan Silsilah Pemerintahan dan Kekerabatan Kerajaan Matan Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Pontianak: Perpustakaan Pribadi Syafaruddin Usman.

[30] Syair Kayung Pernikahan Erlambang Ardiansyah dan Lisa Amalia, Desember 2013. Ketapang: Koleksi Mahmud Mursalin.

[31] Syair Peresmian Madrasah Benua Kayung 18 Februari 2005. Ketapang: Koleksi Uti Saban.

[32] Syair Pendidikan. Ketapang: Makalah Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK XI) Kalimantan Barat 2013.

[33] Syair Pemuda dan Tanah Kayong 3 Oktober 2013. Ketapang: Makalah Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK XI) Kalimantan Barat 2013.

[34] Sartono Kartodirjo. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metode Sejarah. Jakarta: PT Gramedia.

[35] Syaikh JaFar Al Barzanjie. 2003. Terjemahan Al-Barzanjie. Jakarta: Pustaka Amani Jakarta.

[36] Taufik Abdullah. 2014. Indonesia dalam Arus Sejarah Volume III: Kedatangan dan Peradaban Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.

[37] Yudo Sudarto. 2010. Catatan Warisan Budaya (Cultural Heritage) di Kerajaan Tanjungpura. Ketapang: Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga.

[38] Yudo Sudarto. 2008. Upaya Menggali dan Melestarikan Warisan Budaya dan Sejarah Kerajaan Tanjungpura di Kabupaten Ketapang. (//E:/backup kuliah/KULIAH/save the page/index.php.htm). Diakses pada 12 Rabu Februari 2014.